Presiden Penyair
22 11 2008Pria yang berkumis dan berdagu bulu itu bernama Sutardji Calzoum Bachri (SCB). Ia merupakan sastrawan yang menjadikan dunia sastra bertambah semarak, dengan sajak yang mengupayakan penyampaian kata terlepas dari makna. Berbagai karya ia telah ciptakan, baik itu cerita pendek, sajak, maupun puisi. Hal yang paling menarik ialah saat ia menyampaikan sajaknya, luar biasa! Sekalipun cukup aneh.
Karyanya yang berharga, selain sajaknya adalah cerita pendeknya. Bagaimana, pria kelahiran Riau 24 Juni 1941 itu mengkolaborasikan kemampuan sajaknya dengan gaya penulisan cerpennya yang magis, kritis dan manis.
Karya cerita pendeknya dapat kita lihat dan pahami lalu resapi sekaligus amalkan adalah “Hujan Menulis Ayam”, keluaran Tera. Meskipun, kumpulan cerita pendeknya, hanya 9 (sembilan) buah, namun mampu menyunggingkan hati kita atas realita dunia ini.
Bagi saya, penyair yang menasbihkan dirinya sebagai presiden kaumnya itu, merupakan manusia yang patut kita berikan apreisasi setinggi-tingginya. Karena, setidaknya beliau telah memberikan kontribusi yang amat berharga bagi dunia sastra Indonesia, meski saya bukan sastrawan.
Kontribusinya yang amat banyak itu memang memerlukan upaya yang cukup berat untuk mendapatkannya, selain SCB memang kurang populer di media, juga karya-karyanya sulit ditemukan. Namun, jika kita militan, mestinya kita dapat membaca karyanya itu dengan penuh rasa yang beragam.
Sunguh, cerita pendeknya amat segar sesegar-segarnya.
Wassalam, Bravo SCB, Lindungan Allah selalu bersama kita semua!
Berikut karya “sang presiden” SCB, yang berjudul Walau. Karya itu setidaknya sedikit memantulkan kepribadiannya. karena menurut saya, tulisan itu merupakan manifestasi perasaan, dan perasaan merupakan sekumpulan dari pengalaman, keadaan dan kesadaran manusia.
Walau ( 1979 )
Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas Allah
Dulu pernah kuminta Tuhan
Dalam diri
Sekarang tak
Kalau mati
Mungkin matiku bagai batu taman bagai pasir tamat
Jiwa membumbung dalam baris sajak
Tujuh puncak membilang bilang
Nyeri hari mengucap ucap
Di butir pasir kutulis rindu rindu
Walau huruf habislah sudah
Alifbataku belum sebatas Allah
…
Categories : Sastra





