Katakan Ya dari hatimu…

Juni 30th, 2009

Judul : Yes Man (berdasarkan buku karya, Danny Wallace)images1

Pemain : Carl Allen (Jim Carrey)

Produser : Richard D. Zanuck dan David Heyman

Direktur : Payton Reed

Kategori : Dewasa

Jenis : Drama-Komedi

“Lalu, kau bisa katakan “ya” bukan karena terpaksa, bukan karena terikat perjanjian itu, tapi karena kau tahu dalam hatimu bahwa kau ingin mengatakan “ya”.” Terrance Bundley, motivator “Yes”.

Aktor pemuas tawa, asal Amerika Serikat, Jim Carrey, hadir di “Yes Man”. Film berjenis drama-komedi itu menampilkan sosok Carrey yang sejati. Ia tampil dengan ekspresi dan logat wajah yang khas diri sendiri. Dalam film itu, Carrey menampilkan akting yang maksimal. Namun, hidup tiada yang sendiri, begitu pun “Yes Man”. Film yang berdasarkan buku karya, Danny Wallace itu juga menampilkan Zooey Deschanel (Allison) dkk.

Dalam film itu, Jim Carrey memerankan Carl Allen. Kehidupan Carl Allen itu yang terkisar dalam film produksi Amerika Serikat tersebut. Dikisahkan, perubahan dalam hidup dapat terjadi dari sesuatu yang aneh. Berawal dari pertemuan Carl Allen dengan kawan lamanya, Nick Lane. Nick mengajak Carl untuk mengikuti sebuah seminar motivasi. Meski secara terpaksa, ia memutuskan untuk mengikuti seminar tersebut yang bertajuk, “Yes”, dengan Terrance Bundley sebagai trainer.

Karena sebagai pendatang baru dalam seminar motivasi itu, Carl didaulat untuk berinteraksi langsung dengan sang trainer, Terrance Bundley, yang terjadi juga karena paksaan Nick Lane. Sangat kaku gaya Carl, ketika ia berhadapan dengan Terrance. Namun, kepiawaian Terrance mengajak Carl menjadi awal mula segalanya bagi Carl. Dari sana, juga secara terpaksa, ia mengikat perjanjian, anggapan Carl, dengan Terrance. Pria berambut pirang itu meski mengatakan “Yes” di setiap kehidupannya.

Petualangan pun dimulai. Pribadi Carl, yang awalnya, sebagai duda tanpa anak yang tertutup, lambat laun berubah. Memang, nampaknya, kebahagiaan telah “check out” dari kehidupan Carl, semenjak ia bercerai dengan Stephanie, di film itu, 3 (tiga) tahun lalu. Meningkat dengan kabar, Stephanie akan segera menikah dengan pria lain.

Selain itu, kehidupannya sebagai penghuni apartemen yang sepi aktivitas lantas membuatnya tertutup, apalagi dengan pekerjaannya sebagai pegawai sebuah bank. Di bank tersebut, ia bekerja sebagai “tukang pemberi kredit”. Ia menjadi semacam Tuhan bagi kehidupan orang lain. Carl berhak memutuskan, tidak atau disetujuinya sebuah pinjaman usaha. Namun, ia bukan orang yang yakin, Car peragu, sehingga banyak pengusaha yang tidak dapat modal usaha. Kehidupan itulah yang membuat hidupnya membosankan. Kawan-kawannya pun semakin menaruh kebencian terhadapnya, karena pribadinya yang tidak menyenangkan itu.

Dalam film ini terlihat jelas perubahan sikap Carl tersebut, sebelum dan sesudah mengikuti seminar “Yes”. Awal mula “kehidupan baru”nya itu memang menuai kebahagiaan, mulai dari pertemuannya dengan Allison, hingga ia dipromosikan sebagai manajer bank. Namun kehidupan hanya sementara, begitupun kebahagiaan. Berbagai konflik pun mulai menyergap hidupnya.

Akibat aktivitas Carl yang hiperaktif itu, karena ia selalu menyetujui setiap kejadian yang ia hadapi, ia dianggap sebagai seorang teroris oleh dua orang intelejen Negara. Ia dicurigai dengan alasan, ia mengikuti kursus bahasa Korea, kursus setir pesawat, memberi pinjaman pada produsen pupuk. Peristiwa itu berlangsung, ketika ia dan Allen sedang berlibur ke Nebraska. Mereka dipaksa untuk introgasi di sebuah ruangan, ruangan yang menjadi awal, sekaligus akhir hubungannya dengan Allen dan kehidupan.

Akibat interogasi yang memojokkan Carl itu, karena ia dianggap subversive terhadap Negara, ia memutuskan untuk memanggil pengacaranya. Dengan segala daya upaya, ia bebas dari segala tuduhan, plus bebas dari hubungannya dengan Allison, akibat ia menganggap, awal hubungannya dengan Carl adalah sebuah keterpaksaan, karena ia dituntut untuk berkata ‘Yes”.

Seakan roda yang berputar, ia kembali pada titik terendah dalam hidupnya. Ia menjadi gamang. Apalagi dengan kejadian yang tidak menyenangkan akibat perjanjiannya itu. Dengan sekuat niat, ia memutuskan untuk membatalkan perjanjian dengan Terrance. Ternyata, apa yang ia niatkan tak sesuai harapan, bahkan ia masuk rumah sakit, akibat ia menuntut terlalu berlebihan kepada Terrance untuk membatalkan janji itu, mobil mereka tertabrak mobil.

Di rumah sakit, pertemuan yang Carl harapkan terjadi, pun dengan pembatalan janji itu. Namun, bukannya pembatalan yang ia dapatkan, lebih tepatnya pembenaran. Terrance berpesan lebih kurang, ia tidak melulu harus mengatakan ya dalam hidupnya, ia mesti mengatakan ya lewat hatinya, bukan karena terpaksa.

Suatu konsep dialektika terjadi pada pemikiran Carl. Di awali dengan “Tidak, tidak, dan tidak”, lalu “Ya, ya, dan ya”, akhirnya ia menjadi lebih bijak dengan mengatakan “ya” atau “tidak” pada tempatnya.

Bukan dari seminar kebahagiaan didapat, namun dari pergulatan kehidupan yang pelik. Dari sana, selain menemukan apa itu arti hidup, Carl juga menemukan kekasih hatinya (Allison). Selain kehidupan pribadinya yang bahagia, kehidupan orang lain di sekitarnya juga turut berbahagian atas kejadian itu. Seperti ajaran Ki Hadjar Dewantara, lebih kurang, kebahagiaan diri sendiri, kebahagiaan bangsa, dan umat manusia.

Ini film merupakan drama-komedi. Oleh karena itu, film ini banyak dibumbui dengan komedi, selain dari pemeran utamanya, banyak pemeran pembantu yang menyemarakkan film ini, seperti tetangga Carl di apartemen, seorang nenek beruban yang “liar”. Namun, tidak hanya komedi yang tersaji. Beberapa kejadian dalam film yang beralur maju ini yang mengharukan, namun, karena sang pemain utama seorang komedian, kesedihan tersebut tidak begitu kentara.

Film ini memesankan moral yang dalam, meski melalui “cara” barat. Oleh karena itu, kita bisa mengambil hikmah dari apa kita dapat, juga bisa memahami kategori dewasa yang dilabeli oleh Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia. Oleh karena itu, kita meski berpikir berulang-ulang, ketika film ini jatuh sendiri di tangan anak-anak, karena mereka belum memiliki sensor pribadi yang mumpuni terhadap apa yang mereka lihat, dengar, atau rasakan.

Keseluruhan, film ini cocok untuk dijadikan hiburan bagi para remaja di kala liburan. Karena selain menghadirkan tontonan, ini film dapat dijadikan tuntunan. Sesuatu hal yang tentunya patut ditiru oleh para sineas Indonesia, bukan melulu film horror, “pendidikan seks”, atau hal yang tidak penting lainnya. No or Yes, It’s Yours!